Seiring dengan berkembangnya penggunaan antibiotik untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri serta penggunaan antibiotik yang tidak rasional yang dilakukan oleh prescribers (para dokter penulis resep) atau pasien itu sendiri telah menimbulkan masalah munculnya kuman yang resisten terhadap antibiotik. Masalah resistensi bakteri telah menjadi masalah kesehatan di dunia, yang dapat meningkatkan mortalitas, morbilitas (lamanya perawatan di rumah sakit) dan biaya kesehatan. Beberapa penelitian telah melaporkan bakteri resisten ini seperti multidrug-resistant gram-negative bacilli (MDR-GNBs), ESBL-producing Klebsiella pneumonia, Vacomycin-reaistant entercocci (VRE) dan pasien yang terinfeksi methicillin-resistant Staphyllococcus aureus (MRSA).Selain itu, bahaya bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik yaitu kemampuan genetiknya yang dapat menularkan resistensi kepada bakteri lain yang hidup berdampingan di sekitarnya. Hal ini terjadi pada bakteri Shigella flexneri dan Escherichia coli yang hidup dalam satu populasi, mereka dilaporkan mepunyai pola resistensi secara penotif yang sama yaitu terhadap tetracycline, chloramphenicol, streptomycin dan sulfanomide.
Dengan semakin banyaknya penelitian yang melaporkan tentang resistensi mikroba, maka telah dikembangkan juga beberapa cara untuk melawan masalah resistensi tersebut, di antaranya penggunaan antibiotik secara rasional, monitoring dan evaluasi penggunaan antibiotik secara sistematis, terstandar dan dilaksanakan secara teratur serta dengan mengoptimalkan penggunaan antibiotik. Selain itu, kombinasi antara kontrol penggunaan antibiotik dan kontrol penyebaran infeksi mikroorganisme juga sangat penting, terutama untuk kasus multiple resistance Enterobacteriaceae dan MRSA. Pengurangan penggunaan erythromycin terbukti menurunkan jumlah resistensi Group A streptccoci terhadap makrolida antibiotik di Finlandia.
Untuk menanggulangi masalah resistensi di masa yang akan datang, maka perlu dicari solusi yang tepat. Pencarian senyawa baru sebagai bahan antibakteri merupakan salah satu solusinya, hal ini berhubung pengembangan pencarian obat baru memerlukan waktu yang sangat lama (sekitar 14 tahun) dan biaya yang sangat mahal (sekitar 900 US dollar).
Lautan merupakan sumber sebagian besar kelompok senyawa bioaktif yang terakumulasi dalam invertebrata laut yang hidup di ekosistem terumbu karang seperti sponge, karang lunak, nudibranch dan tunicate yang dapat mensintesis senyawa bioaktif seperti antivirus, antimikroba, antitumor dan antikanker. Sedangkan senyawa bioaktif ini terkandung dalam invertebrata laut dengan pergerakan lambat atau hidup menempel di dasar perairan (sessile) yang tidak mempunyai perlindungan fisik seperti duri atau cangkang.Dari hasil beberapa penelitian, dilaporkan bahwa nudibranch dapat mensintesis senyawa bioaktif yang diproduksi sendiri atau berasal dari sumber makanannya (de novo). Nudribranch seperti Dendoris limbiata mensintesis senyawa sesquiterpenoid, diterpenoid dan serterpen. Nudibranch Asteronotus cespitosus menghasilkan sesquiterpenes dehidroherbadysidolide dan spirodysin, Acanthodoris nanaimoensis dengan sesquiterpenoidnya, Limacia clavigera menghasilkan limaciamine, Chromodoris luteorosea dengan diterpenoids luteorosin dan macfarlandin-A dan banyak lagi senyawa bioaktif yang dihasilkan nudibranch sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan fisiknya.
Baru-baru ini banyak penelitian yang melaporkan tentang bakteri simbion invertebrata karang yang mampu menghasilkan senyawa antibakteri. Ditemukannya bakteri yang hidup bersimbiosis dengan karang keras (hard coral), karang lunak (soft coral) dan sponge yang menghambat bakteri E. coli, S. aureus, Streptococcus equi subsp zooepidemicus, Aeromonas hidrophyla dan bakteri kelompok vibrio penyebab penyakit vibriosis pada budidaya laut. Akan tetapi, penelitian yang melaporkan tentang bakteri simbion nudibranch masih sangat sedikit. Selain itu, diemukan juga ribuan simbiotik bakteri pada jaringan vestibular nudribranch Dendrodoris nigra dan massa telurnya. Namun fungsi dari bakteri tersebut belum diketahui dengan jelas. Sedangkan di Skotlandia ditemukan bakteri simbion nudibranch Archidoris pseudoargus yang dapat melawan bakteri Pseudomonas aeruginosa. Belum banyak penelitian tentang bakteri simbion nudibranch yang menghasilkan senyawa antibakteri, khususnya yang melawan bakteri MDR. Hal ini memungkinkan bakteri simbion nudibranch dapat menghasilkan senyawa antibakteri untuk melawan bakteri strain MDR berhubung banyaknya nudibranch yang dapat menghasilkan senyawa bioaktif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar